=)

Benvenuto Nel Mio Blog...
Mari berbagi ilmu, informasi, dan segala sesuatu yang bermanfaat tentunya.. =)

Kamis, 08 November 2012

Jurnal Epidemiologi Gizi Tentang Penyakit Cacingan


Penyakit Cacing Pada Anak SD di Polewali Mandar
Tahun 2006 -2007
Oleh :
Arsad Rahim Ali, SKM
Ka. UPT Sistem Informasi Kesehatan
Dinkes Kab. Polewali Mandar

ABSTRAK

Ditulis untuk mengetahui gambaran penyakit cacing pada anak Sekolah Dasar di Polewali Mandar selama tahun 2006-2007. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptis dari hasil pengambilan sampel faeces anak SD dari tahun 2006-2007 dan laporan-laporan hasil intervensi pencegahan dan penanggulangan penyakit kecacingan. Hasilnya adalah  presentase positif faeces kecacingan mengalami penurunan dari tahun 2006 sebesar 34 % menjadi 13 % ditahun 2007, penurunan ini karena telah dilakukan intervensi berupa pemberian obat cacing ( obat Pirantel Pamoat 10 mg/kg BB  dan Mebendazole 10 mg /kg BB ) dosis tunggal diberikan tiap 6 bulan  pada anak SD, disamping itu juga telah dilakukan  pembinaan  Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS) dan beberapa pengembangan sarana dan prasarana  air bersih pada SD  dan perbaikan lingkungan desanya.  Upaya Pencegahan harus terus dilakukan mengingat dampak dari kecacingan, bukan saja anak akan sakit kecacingan dan mengalami gangguan pertumbuhan (kurang gizi) dan anemia tetapi juga akan menggangu aktifitas sekolah anak, prestasi belajar dan bahkan ada yang drop out sekolah..



Pendahuluan

Di Indonesia gambaran berbagai penyakit telah terungkap secara lengkap misalnya gambaran penyakit gizi kurang, ispa, diare, kecacingan  dan lain-lain, namun gambaran penyakit ini antar wilayah satu dengan wilayah yang lainnya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Sehingga upaya pendekatan penanggulangannyapun  berbeda-beda.

Salah satu penyakit yang dapat dikaji dan memberikan gambaran besarnya masalah dan upaya penanggulangan adalah penyakit kecacingan pada anak Sekolah Dasar.  Penyakit Kecacingan di Indonesia masih merupakan masalah besar atau  masih merupakan masalah kesehatan  masyarakat  karena prevalensinya yang masih sangat tinggi yaitu kurang lebih antara 45-65 %, bahkan diwilayah-wilayah tertentu yang sanitasi yang buruk prevalensi kecacingan bisa mencapai 80%. Cacing-cacing  yang menginfestasi anak dengan prevalensi yang tinggi ini adalah cacing gelang (ascaris lumbricoides), cacing cambuk (trichuris trichiura), cacing tambang (necator americanus) dan cacing pita,  kalau di diperhatikan dengan teliti, cacing-cacing yang tinggal diusus manusia ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kejadian penyakit lainnya misalnya kurang gizi dengan infestasi cacing gelang yang suka makan karbohidrat dan protein diusus sebelum diserap oleh tubuh, kemudian penyakit anemia (kurang kadar darah) karena cacing tambang suka isap darah diusus dan cacing-cacing cambuk dan pita suka sekali mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak  serta  mempengaruhi masalah-masalah non kesehatan lainnya misalnya turunnya prestasi belajar dan drop outnya anak SD.

Di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2005, berdasarkan hasil survei terbatas oleh program SWLIC -2 prevalensi kecacingan pada anak SD masih berkisar 45-65 %.  Karena prevalensinya yang masih sangat tinggi di Kabupaten Polewali Mandar, maka upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kecacingan masuk dalam prioritas pembangunan kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar. Bagaimana gambaran penyakit cacing pada anak SD dan upaya pencegahan dan penanggulangan di Kabupaten Polewali Mandar  di tahun 2006-2007  dapat dijelaskan  dalam artikel ini.


Tujuan
Untuk mengetahui gambaran  penyakit cacing anak SD selama tahun 2006-2007, dan upaya-upaya tindakan pencegahan dan penanggulangan Penyakit Kecacingan di Kabupaten Polewali Mandar.


Penyakit Kecacingan

Kecacingan merupakan salah satu mikroorgisme  penyebab penyakit dari kelompok helminth (cacing), membesar dan hidup dalam usus halus manusia, Cacing ini terutama tumbuh dan berkembang pada penduduk di daerah yang beriklim panas dan lembab dengan sanitasi yang buruk. Terutamanya pada anak-anak. Cacing-cacing tersebut adalah cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang  dan cacing pita.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan penyakit cacingan lebih banyak menyerang pada anak - anak sekolah dasar / MI dikarenakan aktifitas mereka yang lebih banyak berhubungan dengan tanah. Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan cacing cambuk / C.kremi (Trichuris trichiura). Cacing sebagai hewan parasit tidak saja mengambil zat-zat gizi dalam usus anak, tetapi juga merusak dinding usus sehingga mengganggu penyerapan zat-zat gizi tersebut. Anak –anak yang terinfeksi cacingan biasanya mengalami : lesu, pucat / anemia, berat badan menurun, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, kadang disertai batuk – batuk.

Secara keseluruhan gejala-gejala kecacingan  adalah
      Berbadan kurus dan perrtumbuhan terganggu (kurang gizi)
      Kurang darah (anemia)
      Daya tahan tubuh rendah,sering-sering sakit, lemah dan senang menjadi letih sehinnga sering tidak hadir sekolah dan mengakibatkan nilai pelajaran turun.

Gejala-gejala ini terjadi karena cacing Ascaris Lumbricoides hidup dalam rongga usus manusia dan mengambil makanan terutama karbohidrat dan protein, 1 ekor cacing akan mengambil karbohidrat 0,14 gram/hari dan protein 0,035 gram/hari.
Akibat adanya cacing ascaris dalam tubuh, maka anak yang mengkonsumsi makanan yang kurang gizi dapat dengan mudah akan jatuh kedalam kekurangan gizi buruk, sedangkan cacing trichuris dan cacing tambang disamping mengambil makanan juga akan menghisap darah sehingga dapat menyebabkan anemia.

Penularan kecacingan secara umum  melalui dua cara
  1. Anak buang air besar sembarangan – Tinja yang mengandungi telur cacing mencemari tanah – Telur menempel di tangan atau kuku ketika mereka sedang bermain– Ketika makan atau minum, telur cacing masuk ke dalam mulut – tertelan – kemudian orang akan cacingan dan seterusnya terjadilah infestasi cacing.
  2. Anak buang air besar sembarangan – tinja yang mengandung telur cacing mencemari tanah – dikerumuni lalat – lalat hinggap di makanan atau minuman – makanan atau minuman yang mengandungi telur cacing masuk melalui mulut – tertelan – dan selanjutnya orang akan cacingan – infestasi cacingpun terjadi.





Gambaran epidemiologi penyakit kecacingan

Epidemiologi kecacingan adalah gambaran tentang  distribusi (tempat, orang dan waktu) dan determinan (faktor utama) terjadinya penyakit  kecacingan  dalam suatu populasi. Berdasarkan etiologi (kausa) suatu penyakit infeksi dan penyakit non infeksi, penyakit kecacingan ini diklasifikasikan sebagai penyakit infeksi atau merupakan mikroorganisme penyebab penyakit yang dapat ditularkan (Communicable Diseases-biological agents). Dan berdasarkan durasi kejadian akut, sub akut-sub kronik dan kejadian kronik, penyakit kecacingan ini  biasanya digolongan sebagai penyakit kronik yaitu diatas  3 bulan baru ditahu gejala-gejalanya, sehingga spektrum penyakitnya atau luas penyakitnya biasa endemik. Penyebaran karakteristik manifestasi penyakit kecacingan dengan gejala kliniknya lebih banyak ditemukan tampa gejala, namun kejadiannya sudah masuk dalam kondisi akut maka manifestasi kliniknya akan semakin jelas.

Klasifikasi Kecacingan

Penyakit kecacingan disebabkan oleh parasit cacing, dalam tubuh manusia parasit cacing mempunyai tubuh yang simestris bilateral dan tersusun dari banyak sel (multi seluler). cacing yang penting atau cacing yang sering menginfeksi  tubuh manusia terdiri  atas  dua golongan besar yaitu filum platy-helmithes dan filum nemat-helminthes. Filum platy-helmithes terdiri atas dua kelas  yang penting yaitu  kelas cestoda dan  kelas trematoda, sedangkan filum nemathehelmithes kelasnya yang penting adalah nematoda. Cacing gelang, cacing cambuk, cacing tambang dan cacing pita adalah kelas nematoda yang selalu parasitik pada tubuh manusia dan menjadikannya sebagai tempat hidup dan berkembang (reservoices hospes definitif). Berikut ini perbedaan Cestoda, Trematoda dan Nematoda


Tabel 1.
Perbedaan Kelas Mikroorganisme Cacing
(Cestoda, Trematoda dan Nematoda
Karakteristik cacing
Cestoda
Trematoda
Nematoda
Bentuk Tubuh
Pita, bersegmen
Daun tak bersegmen
Silindris, segmen (-)
Sistem Reproduksi
Hermafrodit (monoecius)
Hermafrodit (monoecius) kecuali Schistosoma
Jantan dan betina (diecious)
Kepala
Alat isap (+),
kait (+)
Alat isap (+)
Kait(-)
Alat isap (-)
Kait (-)
Sistem Pencernaan
Tidak ada
usus (-)
Tak sempurna
Anus (-)
Sempurna
Anus (+)
Rongga tubuh
Tidak ada
Tidak ada
Ada
      Sumber : Soedarta, (2007), Sinopsis Kedokteran Tropis,  Airlangga University Press.


Besarnya Masalah dan  Penanggulangan Penyakit Kecacingan
di Kabupaten Polewali Mandar

Berdasarkan hasil survei terbatas oleh program SWLIC -2 di tahun 2005 prevalensi kecacingan pada anak SD masih berkisar 45-65 %.  Karena prevalensinya yang masih sangat tinggi di Kabupaten Polewali Mandar, maka upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kecacingan masuk dalam prioritas pembangunan kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar,

Hasil dari upaya menurunkan besarnya masalah dan upaya pencegahan serta penanggulangan penyakit kecacingan di Kabupaten Polewali Mandar  selama tahun 2006-2007 dapat diperlihat pada tabel 2.  hasil kumulatif pemeriksaan laboratorium faeces Kecacingan pada Anak SD di Polewali Mandar pada tahun 2006-2007. Tabel ini memperlihatkan gambaran hasil intervensi yang telah dilakukan  selama tahun tersebut.



Tabel 2
Hasil Kumulatif Pemeriksaan Laboratorium
 Faeces  Kecacingan murid SD
di Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2006-2007








Tahun
Jumlah SD
Jumlah murid diperiksa
Positif
Negatif
Jumlah
n
%
n
%
2006
24
2288
783
34.22
1505
65.78
100.00
2007
69
2353
312
13.26
2041
86.74
100.00
Jumlah Kumulatif
93
4641
1095
23.59
3546
76.41
100.00
Sumber :







Dinkes Polewali Mandar, (2008), Laporan Pemeriksaan Faeces anak SD di Polewali Mandar














Hasil kumulatif pemeriksaan Laboratorium Faeces kecacingan murid SD di Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2006-2007 terlihat jelas   penurunan presentase  tahun 2006 sebesar 34,22 5 menjadi 13.26 % di tahun 2007. Penurunan ini karena hasil survei terbatas yang dilakukan ditahun 2005 yang memberikan gambaran kecacingan di kabupaten Polewali Mandar  antara  35-45 % untuk segera di lakukan intervensi  pemberian obat cacing pada anak SD (obat pirantel Pamout 10 mg/ kg BB dan Albendazole 10 mg/kg BB), dosis tunggal diberikan tiap 6 bulan, Pengembangan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan perbaikan Sarana air bersih serta sanitasi di desa lokasi SD intervensi. Intervensi ini telah memberikan hasil yang sangat signifikan pada ditahun 2006-2007.




Tabel 3
Jumlah SD dengan Presentase diatas dan dibawah Rata-rata
Kumulatif  Kabupaten Polewali Mandar 2006-2007



Presen SD Kecacingan
Jumlah SD
n
%
> 23,59
28
30.11
<23,59
65
69.89
Jumlah Kumulatif
93
100
Sumber : Data Sekunder Terolah








Pata tabel 3. dapat diperlihatkan dari 93 SD  yang dilakukan  pengambilan sampel faeces untuk pengujuian kecacingan, dibandingkan dengan nilai rata-rata kecacingan (rerata 23,59%) ada 69,89 (atau 65 SD)  mempunyai presentase kecacingan diatas rata-rata, dan hanya 30,11 % (atau 28 SD) yang diatas rata-rata..

Kesimpulan

Artikel ini memberikan gambaran epidemiologi pencegahan dan penanggulangan penyakit kecacingan di Kabupaten Polewali Mandar selama tiga tahun 2005-2007  menunjukkan prevalensi kecacingan pada anak SD telah mengalami penurunan dari  34 % ditahun 2006 menjadi 13 % di tahun 2007.  Penurunan ini karena telah dilakukan intervensi beruapa pemberian obat cacing ( obat pirantel pamoat 10 mg dan albendazole 100mg ) pada anak SD  tiap tahunnya juga telah dilakukan intervensi  pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS) pada anak SD termasuk pengembangan sarana dan prasarana air bersih pada SD-SD tersebut.

Upaya pencegahan dan penanggulangan harus terus dilakukan agar  walaupun prevalensi telah turun, hal ini penting agar permasalahan kecacingan dan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak SD diminimalisir misalnya kurang gizi, anemia yang sangat mempengaruhi  prestasi belajar dan drop out sekolah.

Tinjauan Pustaka :
·         Soedarta, (2007), Sinopsis Kedokteran Tropis,  Airlangga University Press.
·         Dinkes Polewali Mandar, (2008), Laporan Pemeriksaan Faeces anak SD di Polewali Mandar. Polewali
·         Elmi dkk, (2004), Status Gizi Dan Infestasi Cacing Usus Pada Anak , Sekolah Dasar, e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar